28 Maret 2005( A True Story)

November 28, 2007 & December 1,2007

Well… judul yang mungkin tidak bermakna bagi kebanyakan orang,28 maret 2005…Namun,bagi penduduk Nias,khususnya kota Gunungsitoli hari tersebut merupakan hal yang sangat sulit dilupakan.Yup,28 maret 2005 kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya menghampiri pulau kecil di sebelah barat pulau sumatera itu.Kejadian itu adalah gempa berkekuatan 8,7 SR yang menghancurkan segalanya bagi penduduk yang bermukim disana..seakan tak ada lagi harapan,habis sudah semuanya…

Malam itu tidak ada sama sekali perasaan yang aneh bagi saya..Saya mempersiapkan segala keperluan saya untuk kembali bersekolah besok pagi,setelah liburan paskah berakhir.Dan sekitar pukul 9 lewat sayapun terlelap…

Rasanya tak lama kemudian saya terbangun dari tidur saya dan merasakan pusing yang sangat hebat..saya coba mengejapkan mata beberapa kali namun tetap saja perasaan tersebut ada.Saya bangkit dari tempat tidur dan saya bukan hanya merasakan pusing tetapi goncangan,dan akhirnya saya sadar bahwa itu adalah gempa.Spontan saya langsung keluar dari kamar dan melihat kedua orang tua saya juga keluar dari kamar mereka.Tiba-tiba sep….lampu padam sehingga membuat keadaan menjadi makin gelap.Goncangan makin kuat dan kami bergegas untuk turun kelantai bawah untuk keluar.Baru saja kami bertiga menginjakkan kaki ditangga, goncangan yang luar biasa menghantam kami bertiga.Kami tak dapat bergerak dan ayah saya menyuruh agar kami tiarap sambil berpegangan pada pegangan tangga .Bunyi yang tak karuanpun terdengar,seakan ada guntur yang menyambar sesuatu didekat kami.Bunyi kaca yang pecah dan entahlah apalagi sumber bunyi yang lain.

Akhirnya goncangan pun berhenti (entah berapa lama kemudian ).Saya bangkit dengan perasaan takut,bingung dan sangat tergoncang dengan apa yang baru saja terjadi.Segera kami turun kebawah untuk keluar menuju pintu samping dan mencoba membuka pintu lapisan pertama yang berupa pintu kayu yang di grendel ,dan ternyata..

Pintu tidak bisa terbuka…!

Rasa panik kembali merasuk kehati saya.Saya dan ayah saya berusaha dengan sekuat tenaga membuka grendel itu,namun tetap tak bisa terbuka,seakan ada dorongan yang sangat kuat yang mendorong pintu itu kedalam.Ayah saya kemudian menyuruh kami semua untuk kembali ke atas.Ibu saya menuju kelantai tiga untuk membukakan pintu sebab 2 orang pembantu kami tidur di atas sementara saya dan ayah saya menuju kamar utama untuk mencari kunci pintu depan (pintu toko)( ket. rumah kami merupakan sebuah ruko).Keadaaan kamar tersebut sudah sangat kacau.Lemari pakaian dan tempat penyimpanan sudah ambruk dan isinya berceceran dimana-mana.Kami mencari kunci depan dalam keadaan panik,sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukannya, apa lagi dalam keadaan yang gelap.Kami segera keluar dan berkumpul bersama dengan ibu saya yang sudah bersama dengan kedua pembantu.Ke dua pambantu kami mengatakan ada teriakan minta tolong yang sepertinya berasal dari tetangga sebelah rumah.Ayah saya membuka pintu ruang tamu yang menunju ke beranda samping .Saya keluar dan sangat kaget dengan apa yang saya lihat…

Rumah tetangga kami yang berada hanya dalam jarak 2 meter disamping rumah sudah tidak ada lagi,melainkan diganti dengan reruntuhan bangunan yang hampir rata dengan tanah dan pada jarak yang agak jauh saya melihat kobaran api yang berasal dari beberapa titik yang berbeda.Perasaan yang tak karuan kembali menyerang saya.Saya tidak menyangka bahwa gempa yang baru saja terjadi sangat dahsyat sampai bisa mengancurkan rumah…menyebabkan kehancuran yang luar biasa…Kami kembali ke dalam dan ibu saya membawakan kami dalam doa.Dengan isak tangis ibu saya memimpin kami berdoa kepada Tuhan untuk menjaga kami dari segala mara bahaya akibat kejadian ini…..

Kami berlima akhirnya turun dan menuju kedepan.Keadaan toko sudah tidak dapat dikenali lagi.Barang-barang berjatuhan menghalangi jalan kami menuju ke depan.Namun dalam situasi itu,yang kami pikirkan hanya satu yaitu segera keluar dari rumah dan tentunya satu hal yang membuat rasa takut kami semakin besar ,yaitu kejadian yang meninmpa penduduk aceh 26 desember sebelumnya yaitu becana Tsunami.Kami sangat takut apabila kejadian tersebut juga menimpa kami .Apalagi karena lokasi rumah kami tepat berada dihadapan pantai.Akhirnya dengan segenap kekuatan kami melewati barang tersebut dan satu hal,  kami melewatinya tanpa alas kaki & ajaibnya sampai di depan pintu kaki kami tdak terluka sama sekali padahal jalan kami lewati dipenuhi oleh pecahan-pecahan  barang pecah belah yang kami jual di toko.

Sesampainya dipintu ibu yang memegang kunci mencoba untuk membuka pintu.Namun…

Kuncinya ternyata sudah patah!!!Kembali rasa panik menyerang saya.Bagaimana caranya melewati pintu yang terbuat dari besi itu?Apa kami harus melompat dari tingkat 2?Namun setelah diperhatikan berapa lama ternyata kuncinya masih ada,kunci yang patah adalah kunci yang bentuknya mirip dengan kunci pintu toko( heran deh,kunci patah masih disimpan juga ).Akhirnya kami berhasil keluar dari  rumah. Kami langsung mengungsi ketempat yang lebih tinggi untuk berjaga-jaga apabila tsunami memang datang.Di sepanjang perjalanan kami mendengar orang-orang berteriak,ada yang memanggil-manggil anaknya,ada juga yang menangis.Entahlah,mungkin situasi itu hampir sama dengan situasi kota yang tengah diserang dalam perang.Di tengah perjalanan kami melewati gereja kami.Gedungnya sudah ambruk,hal yang sepertinya sangat menggoncang ibu saya.

Akhirnya kami tiba dirumah paman saya (alm.) yang berada diatas gunung.Mereka sekeluarga telah mengungsi ke jalan dan tidak berani masuk ke rumah.Dari atas gunung kami dapat melihat kota Gunungsitoli dengan cukup jelas.Kobaran api di beberapa titik bagaikan lilin raksasa yang menerangi kota tersebut di malam yang sungguh kelam dan mencekam….

Setelah menunggu beberapa lama & yakin bahwa tsunami tidak akan datang ( thank’s God ) sekitar pukul 2 dini hari, saya dan ayah saya kembali kerumah untuk mengambil surat-surat berharga yang untungnya telah disusun ibu saya dalam satu koper sehingga dapat langsung di bawa.Ibu saya melakukannya karena ingin berjaga-jaga setelah kejadian  tsunami di Aceh.Sebenarnya saya masih sangat takut untuk kembali ke rumah,namun akhirnya saya ikut juga. Kami berdua kembali masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamar tempat penyimpanan koper tersebut. Di dalam kamar ayah saya sempat mengambil sepotong baju mengingat pakaian ibu saya sudah basah karena terkena air akuarium yang pecah di ruang tamu kami.

Di tengah perjalanan saya memperhatikan kembali baju yang baru saja diambil oleh ayah saya dan ternyata baju tersebut adalah………… JAS (wkkkkkkk).Karena kedinginan saya tak peduli dan tetap memakai jas tersebut.

Kami pun sampai ditempat paman saya.Tak berapa lama kemudian ayah saya menerima telepon dari kakak-kakak saya yang berada di medan dan Jakarta.Berita mengenai Nias ternyata telah diberitakan di metro tv.Berita tersebut menyatakan bahwa seluruh rumah yang berada di jalan Sirao ( jalan utama di Gunungsitoli sekaligus jalan letak  rumah kami ) telah rata dengan tanah,Kakak-kakak saya sangat panik dan takut mendengar berita tersebut.Bahkan kata kakak saya yang berada di medan,gempa tersebut terasa sampai ke sana hingga menyebabkan orang-orang juga keluar rumah.

Keesokan paginya,beberapa helikopter lalu lalang di udara kota Gunungsitoli. Api yang kemarin berkobarpun sudah padam. Pagi itu kami semua masih dalam keadaan gelisah karena tidak tahu bagaimana dengan nasib keluarga kami yang berada di tempat lain. Sangat sulit berkomunikasi,jaringan telepon putus,tak ada listrik ditambah lagi sinyal handphone yang hilang ( waktu itu di Nias cuma beroperasi dua provider jaringan yaitu telkomsel & satelindo. sinyal satelindo tetap ada ( ayah saya pakai ini) namun telkomsel yang sialnya dipakai oleh sebagian besar penduduk hilang ). Semuanya itu menambah pikiran – pikiran  yang negatif, bagaimana nasib kami esok? apakah masih ada yang akan peduli pada kami ?

Kami bertiga ( saya dan kedua orang tua saya ) memutuskan untuk kembali ke rumah untuk membereskan barang – barang. Disepanjang perjalanan menuju kesana saya melihat banyak perbedaan dengan kota Gunungsitoli ( terlalu banyak ). Bangunan – bangunan yang dulu berjejer di jalan Sirao,sebagian besar sudah tidak ada lagi.Keberadaannya digantikan dengan puing – puing bangunan serta sisa – sisa bangunan terbakar. Tiang-tiang listrk ambruk & jalan raya pun mengalami kerusakan yang amat parah.Disepanjang perjalanan kami juga bertemu dengan beberapa kenalan,tetangga dan juga sanak saudara. Mereka semua membawa kabar yang berbeda –beda.Ada yang bilang, mereka sekeluarga selamat begitu juga dengan rumah mereka,ada yang bilang rumah mereka rubuh namun mereka semua sempat keluar sehingga tidak tertimpa apa –apa. Dan ada juga yang bercerita sedih bahwa sampai saat ini keluarga mereka masih ada di dalam reruntuhan & mereka pun tak dapat berbuat apa-apa. Saat itu hati saya merasa amat perih mendengar cerita mereka. Saya membayangkan pasti sungguh amat menderita rasanya menegetahui bahwa orang yang kita cintai berada didalam reruntuhan bangunan dengan nasib yang tidak jelas dan kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk menylematkan mereka…

Sesampainya di depan rumah,kami bertemu dengan tetangga sebelah. Dia menceritakan bahwa pada saat gempa mereka sekeluarga selamat karena masih sempat keluar dari rumah.Namun, hal yang malang menimpa keluarga mereka. Pada saat di pengungsian beberapa kali orang-orang yang menurut saya sungguh amat sangat tidak bertanggung jawab meneriakan isu tsunami,sehingga orang – orang yang mengungsi kembali berlarian. Hal inilah yang menyebabkan tetangga kami itu mengalami serangan jantung yang merenggut nyawanya ( tampaknya beberapa orang juga meninggal karena alasan ini ). Keadaan di sekitar rumah kami sungguh sangat mengharukan . Orang –orang duduk di hadapan reruntuhan rumah mereka sambil meratapi nasib,ada yang menagis histeris,ada juga yang mencoba menggali-gali puing rumah mereka entah untuk tujuan apa…Bahkan ada yang kelihatan sangat tergoncang sehingga terganggu jiwanya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang tetap membiarkan kami hidup bahkan rumah kami masih tetap berdiri…

Bantuan akhirnya datang,berbagai organisasi penyelamatan,tentara-tentara asing dan lokal,berbagai NGO ( non-government organization) mulai mendirikan tenda-tenda pengungsian,membantu warga yang terluka & keesokan harinya alat-alat beratpun datang sehingga proses evakuasi dapat dijalankan dengan lebih baik. Beberapa orang ditemukan masih dalam keadaan hidup ( bahkan ada yang setelah berhari-hari di dalam reruntuhan ),ada juga yang ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.Satu hal yang bahkan saya masih ingat sampai sekarang adalah bau yang khas dari kota Gunungsitoli pada saat itu…Bau mayat….

Beberapa bulanpun berlalu,akhirnya keadaan bisa kembali normal.Orang-orang mulai kembali beraktivitas & saya pun mulai bersekolah kembali. Di sekolah, untunglah semua teman-teman saya sekelas selamat semua. Pembicaraan kami pada saat itu selalu mengenai gempa. Mereka semua sangat menghakhawatirkan keadaan saya karena isu yang mengatakan bahwa jalan Sirao sudah rata dengan tanah (saya satu-satunya siswa di kelas kami yang tinggal di jalan Sirao). Dengan santainya mereka berkata : “  Gw kira loe udah mati” yang anehnya dengan perasaan kecewa ( hahaha mungkin cuma perasaan saya saja).Pada saat bercerita dengan teman-teman ,saya melihat begitu banyak mujizat yang bekerja pada saat itu.Bagaimana orang –orang yang rumahnya hancur terselamatkan oleh kebetulan yang luar biasa pada saat gempa. Adik saya (saudara) pada malam sebelum gempa merengek untuk tidur di kamar orangtuanya padahal dia sudah memiliki kamar sendiri & pada saat gempa,dinding kamarnya ambruk dan tepat jatuh di tempat tidurnya.Ada yang sedang tidak berada di rumah pada saat kejadian gempa,ada yang berada di suatu acara,ada yang sedang berada di jalan menunggu kepulangan sanak saudaranya bahkan ada yang sekedar membeli rokok sehingga terselamatkan.Diamping itu banyak juga cerita-cerita yang sangat mengiris hati. Ada seorang ibu yang pada saat kejadian berada di kapal menuju pulau Nias menerima telepon dari suaminya yang ternyata terjebak dalam api Karena rumah mereka terbakar dan rubuh.Ditelepon ia berkata kepada istrinya untuk memaafkan segala kesalahannya sebelum akhirnya telepon terputus secara tiba-tiba.Ada yang meninggal sambil berpelukan bahkan ada yang meninggal sambil melindungi orang lain.Sungguh luar biasa… 

(Didedikasikan untuk teman & keluarga korban gempa Nias 28 Maret 2005 yang telah tiada & juga yang masih bisa merasakan kehiduapan sampai detik ini). 

NB. cerita teman-teman saya…

  1. Pada saat gempa saya tertidur dan tidak merasakan apa-apa ( rugi banget nih anak ). Pada saat saya sadar ternyata tempat tidur saya sudah berpindah posisinya dan keadaan kamar saya sudah berantakan.
  2. Pada saat gempa saya tertidur dan tidak merasakan apa-apa ( sda. ). Saya ditinggalkan keluarga yang sudah duluan mengungsi ke dataran tinggi.Kata kakak saya sesampainya di atas mereka baru sadar kalau anggota keluarga mereka kurang satu orang lagi & akhirnya mereka kembali untuk menjemput saya ( kasihan amat wkkkkk).
  3. Teman saya yang rumahnya di gunung mengatakan bahwa pada saat gempa banyak orang yang mengungsi ke tempat mereka. Suatu saat datang rombongan pengungsi yang berlari dari bawah. Barisan itu dipimpin oleh seorang bapak paruh baya yang berlari dengan semangat mendahuli orang lain.Dan ternyata bapak itu cuma memakai celana dalam ( sepertinya dia tidak sadar ).Orang-orang sekitar pun memandang bapak itu dengan keheranan.Sadar diperhatikan,bapak itu pun tersentak melihat dirinya ternyata setengah telanjang. Akhirnya dia bersembunyi dibalik kerumunan agar tidak kelihatan ( wkkkk ).
  4. Dia masih tidur ketika tiba-tiba teriakan adiknya membangunkannya. Teriakan itu berkata:

           Adiknya : Evi !!!! ae tou …..!!!!

           Teman saya : Hana..?!

           Adiknya : Ae tou…!!!! ( ata’u )

           Teman saya : Hana…???!!!!!! ( makin ebua li,aukhu…) 

           Terjemahannya 

           Adiknya : Evi !!! Turun …!!!!

           Teman saya : Kenapa..?!

           Adiknya : Turun…!!! ( makin ketakutan )

           Teman saya : Kenapa…???!!!! ( suara makin besar dan jadi marah )

           kalau saya jadi adiknya ,teman saya itu saya biarkan saja,ngebetein banget !!!! 

         Terima kasih telah membaca tulisan ini…Ya’ahowu.   

Published in: on Desember 1, 2007 at 10:51 am  Comments (2)